Senin, 19 September 2011

Sering Nonton TV, Anak Bisa Bodoh


Semakin lama durasi anak usia di bawah lima tahun (balita) menonton televisi, kondisi kesehatannya semakin terancam. Ada studi yang meneliti 1.300 anak di Inggris yang memiliki tingkat prestasi buruk di sekolah.

Hasilnya, anak itu ketika anak balita (2-4 tahun) terlalu banyak menonton TV, yakni lebih dari 2 jam per hari. Penelitian pertama dilakukan ketika anak-anak itu berusia 2 dan 4 tahun lalu penelitian kedua dilakukan kembali pada anak yang sama ketika mereka berusia 10 tahun.

Anak-anak yang menonton TV terlalu banyak terbukti jarang terlibat kegiatan di kelas dan tingkat pemahaman pada pelajaran Matematika rendah. Linda Pagani dari University of Montreal, yang melakukan penelitian yang diterbitkan di jurnal Archives of Pediatrics and Adolescent Medicine, menekankan tahap awal masa kanak-kanak adalah masa-masa paling penting bagi perkembangan otak dan pembentukan perilaku.

"Orangtua harus memperbanyak waktu berbicara dan melakukan aktivitas bersama dengan anak pada waktu makan, mandi, atau bermain,” ujarnya. (BBC/LUK)

Agar Tak Lagi Terobsesi Mantan Pacar


Berpisah dengan pasangan memang tak mengenakkan. Apalagi jika sudah terlanjur cinta. Tak heran jika pascaperpisahan, keinginan untuk menghubungi mantan pacar, bahkan hasrat untuk kembali menjalin hubungan, tak terbendung lantaran tak bisa melupakan mantan pacar. Anda bisa lebih mudah mengatasi kondisi tak nyaman pascaputus hubungan ini, dengan menjalani sejumlah kiat dari pakar ini.

Rebecca Gladding, MD, penulis You Are Not Your Brain, mengatakan, jika Anda mengatasi kondisi pascaputus dengan cara yang benar, akan lebih mudah bagi Anda untuk melupakan mantan, cepat pulih kembali, dan menemukan hubungan baru yang lebih baik.


1. Cari fokus lain dalam 30 menit
Si dia ternyata bukan tipe pria yang tepat untuk Anda, lalu Anda memutuskan hubungan. Namun, setiap kali akhir pekan kok justru Anda yang merindukan mantan pacar? Rasa rindu ini kemudian memicu keinginan untuk sekadar menelepon atau bahkan bertemu. Perasaan ini muncul bisa jadi karena Anda kesepian atau karena sedang merasa bosan. Apalagi jika rutinitas sebelumnya, Anda dan dia selalu menghabiskan waktu bersama di akhir pekan.

Gladding menyarankan, ikuti aturan main 30 menit. Ketika Anda mulai terpicu untuk menelepon atau bahkan ingin bertemu dengan mantan pacar, ubah fokus Anda. Kuncinya ada di pikiran Anda.

Sejak munculnya keinginan tersebut, hingga 30 menit ke depan, cari fokus perhatian yang lain. Lakukan kegiatan yang Anda suka, seperti menulis di blog atau kegiatan lain.

"Mungkin cara ini terdengar terlalu sederhana, atau bahkan tak mungkin. Namun dengan mengubah fokus dan melakukan kegiatan lain selama 30 menit, keinginan untuk menelepon mantan pacar justru akan memudar. Anda juga bisa tetap fokus dan berada di jalur yang benar jika memberikan waktu pada diri sendiri untuk melakukan hal positif sebagai cara mengalihkan perhatian Anda," jelas Gladding.

2. Identifikasi pemicu masalah
Keinginan menelepon atau bertemu mantan pacar karena perasaan kangen boleh jadi menimbulkan masalah pascaputus hubungan. Luangkan waktu sesaat untuk mengenali pemicu spesifik dari masalah perasaan ini.

"Kebanyakan perempuan mengalami masalah perasaan seperti ini karena ada pemicunya. Jadi, kenali pemicunya secara spesifik. Pikirkan kembali, hal apa atau perilaku yang membuat Anda terjebak dengan perasaan tersebut," katanya.

Misalnya, membaca status atau komentar-komentar di Facebook mantan pacar, mendengarkan musik favorit Anda dan dia, pergi ke restoran tempat Anda biasa berkencan. Singkirkan semua hal ini, yang membuat Anda kembali teringat padanya. Jika perlu, block sementara posting Facebook mantan pacar Anda.

Kenali penyebab yang membuat perasaan Anda mudah rapuh pascaputus hubungan. Segera lakukan tindakan untuk mengatasinya, jangan justru membuat diri Anda terjebak dalam perasaan tersebut.

3. Cari teman bicara
Alihkan perhatian Anda dari segala sesuatu tentang mantan pacar, kepada hal lain. Misalnya, dengan berbincang bersama teman yang suka bicara. Libatkan diri Anda dalam percakapan seru tentang berbagai hal bersama teman-teman dekat Anda. Nikmati suasana berbeda dengan status lajang Anda.

"Anda kerapkali bertanya-tanya si dia sedang apa atau apakah si dia sudah punya pacar baru, dan lain sebagainya. Jika pikiran-pikiran ini mulai muncul, segera hubungi teman-teman Anda. Berbincanglah dengan teman-teman Anda. Cari topik seru yang bisa mengalihkan perhatian Anda," jelas Gladding.

4. Membuat daftar
Berpikirlah realistis pascaputus hubungan. Caranya, buat daftar tiga alasan mengapa Anda lebih baik tanpa dia. Anda boleh memasukkan alasan mengapa si dia tak cocok untuk Anda. Misalnya, si dia tidak cocok dengan ibu Anda. Atau si dia tak pernah mendukung aktivitas Anda. Apa pun itu, tuliskan sejumlah alasan yang menguatkan Anda, secara realistis, bahwa si dia memang bukan pasangan yang tepat.

"Cara ini membantu Anda untuk merasa lebih nyaman dengan kondisi dan keputusan saat ini, termasuk mencegah hadirnya kembali perasaan atau keinginan bersama mantan pacar," tandas Gladding.

Pria Lebih Sensitif Pada Kualitas Hubungan Dibanding Wanita


Berbeda dengan kepercayaan banyak orang, naik turunnya hubungan romantisme ternyata lebih memiliki efek lebih besar pada kesehatan mental pria muda daripada wanita. Hal ini adalah hasil penelitian baru oleh Robin Simon, seorang profesor Universitas Wake Forest sosiologi dikutip dari Science Daily (14/6/10).
Penelitian ini menyoroti hubungan romantis (pacaran) dan kesejahteraan emosional antara pria dan wanita di ambang kedewasaan. Uniknya, penelitian ini menemukan bahwa pria muda lebih reaktif terhadap kualitas hubungan dibandingkan wanita.

Itu berarti tekanan dan gejolak dalam sebuah hubungan lebih erat pada pria daripada wanita. Para peneliti juga menemukan bahwa pria mendapatkan manfaat emosional yang lebih besar dari aspek-aspek positif dari sebuah hubungan yang tengah dijalani.
Bagi pria muda, pasangan mereka adalah sumber utama bagi kedekatan dalam sebuah hubungan. Berbeda dengan wanita muda yang lebih cenderung memiliki hubungan dekat dengan keluarga, saudara dan teman-teman. Hal ini juga berkaitan dengan identitas pria itu dan perasaan harga diri mereka.
Simon juga menjelaskan bagaimana pria dan wanita mengungkapkan tekanan emosional dengan cara yang berbeda. Perempuan mengungkapkan gangguan emosi dengan depresi, sedangkan pria mengekspresikan stres emosional dengan masalah substansi.
Pria muda lebih dipengaruhi oleh kualitas emosional dari hubungan mereka saat ini, sedangkan perempuan muda lebih emosional dalam kejelasan hubungan mereka. Jadi, perempuan muda lebih mungkin mengalami depresi ketika hubungan berakhir.


Panggilan "Mama-Papa" Mengurangi Kemesraan?


Seperti telah disebutkan dalam artikel sebelumnya, pasangan yang terlalu asik dengan pekerjaan masing-masing akan menipiskan kesetiaan mereka. Jika salah satu dari Anda mulai menampakkan gejala workaholic, usahakan untuk menyelingi dengan aktivitas kencan berdua. Bila tidak, hubungan pernikahan akan terasa hambar dan akhirnya akan menjadi rutinitas yang membosankan.
Untuk menghindari kebosanan, psikolog Prof Dr Sarlito Wirawan Sarwono menyarankan Anda untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan yang dapat menunjukkan rasa sayang pada pasangan. Tidak perlu memikirkan hal-hal yang besar seperti memberi hadiah atau kejutan. Ciptakan hal-hal sederhana yang manis, misalnya mencium suami sebelum Anda berpisah untuk ke kantor masing-masing.
“Saya biasa mencium kening istri setiap pagi sebelum berangkat ke kantor,” ungkap Prof Sarlito, saat peluncuran buku Mencegah Selingkuh dan Cerai karya sosiolog Dra Hartati Nurwijaya di Toko Buku Gramedia Matraman, Jakarta, Minggu (14/8/2011) lalu.

Lalu, berikan panggilan sayang untuk suami, sesuai nama sayangnya sewaktu Anda berdua masih pacaran. Menurut Prof Sarlito, panggilan "mama-papa" justru terkesan membatasi kemesraan. "Mama-papa" merupakan sebutan untuk fungsi Anda berdua sebagai ayah dan sebagai ibu.

“Kalau tidak di depan anak-anak, alangkah baiknya pasangan memanggil pasangannya dengan panggilan mesra seperti ketika pacaran dulu,” jelas pria yang biasa disapa Mas Ito ini.

Penampilan di dalam rumah juga harus diperhatikan. Jangan sampai ketika suami berangkat kerja, Anda masih mengenakan daster. Ketika suami pulang kerja, Anda ternyata sudah mengenakan daster. Padahal, selama seharian suami bekerja, Anda sudah shopping atau bepergian kemana saja dengan pakaian yang fashionable lengkap dengan riasan wajah.

“Seharusnya berdandan maksimal justru dilakukan saat suami akan berangkat kerja dan saat suami pulang kerja,” tambah Mas Ito.
Di sela-sela kesibukan, ada baiknya Anda juga menyempatkan waktu untuk memberi kejutan kepada pasangan, misalnya tiba-tiba menyelipkan ucapan “I love you” di tas kerja suami. Sedangkan suami bisa menempelkan ucapan “Selalu sayang mama” di kulkas agar terlihat istri.

“Itu semua hanya contoh lah, banyak sekali hal-hal kecil yang bisa dilakukan setiap hari, agar rutinitas pekerjaan dan kehidupan rumah tangga itu selalu ada kejutannya. Agar tetap harmonis setiap hari,” ujar Mas Ito.

Seberapa Seringkah Anda Bertengkar Dgn Pasangan ?


Dalam hubungan suami istri, tidak dapat dipungkiri, ada kalanya pertengkaran akan terjadi selama menjalin hubungan berumah tangga. Bila anda menghitung ada sekitar 200 pertengkaran dalam setahun, maka anda dapat mengatakan diri anda beruntung.
Namun, bila angka tersebut mendekati 400 kali, di sini mungkin ada sesuatu yang salah dalam hubungan anda. Tetapi jika anda dan pasangan bertengkar sebanyak 312 kali dalam setahun, anda setara dengan 3.000 pasangan bertengkar lainnya. Ini merupakan simpulan dari penelitian yang dilakukan oleh Betterbathrooms, dilansir oleh Genius Beauty (23/1/11).
Para peneliti menambahkan bahwa sebagian besar pertengkaran terjadi atas isu-isu kebersihan, seperti cangkir dengan ampas minuman yang masih tersisa di rumah.

Toilet tampaknya menjadi tempat yang paling kontroversial, baik adanya bagian yang masih kotor, meninggalkan toilet tanpa diguyur dan kelalaian untuk menggantikan gulungan toilet yang kosong.
Temuan lain menghasilkan, waktu paling mungkin untuk bertengkar adalah Kamis malam antara makan malam dan jam delapan malam.
Pertengkaran pun tidak berlangsung lebih dari 10 menit, tapi bila terjadi setiap hari, “sepertinya banyak membuang-buang waktu untuk bertengkar,” kata Betterbathrooms.
Inilah masalah yang paling sering dipertengkarkan:
1. Tidak mencuci alat pencukur mencukur janggut
2. Meninggalkan toilet kotor
3. Terlalu sering memindah saluran TV
4. Membiarkan gulungan toilet kosong
5. Tidak membernarkan dudukan toilet
6. Tidak untuk mematikan lampu
7. Membiarkan cangkir kotor dan memilih pergi
8. Handuk basah dibiarkan tergeletak di lantai
9. Menempatkan barang-barang yang tidak dapat ditemukan dengan mudah
10. Meninggalkan toilet tanpa diguyur

Mengetahui dan Mendeteksi Anak Stres

Anak stres, apa yang normal dan apa yang tidak? Pada tingkat tertentu, stres adalah normal dan sehat untuk anak-anak. Bahkan, secara resmi disebut “eustress”, merupakan stres yang sehat atau stres yang memberikan perasaan positif. Anak yang mengalami stres ini, sering merupakan hasil dari mencoba hal-hal baru, menjaga sebuah hubungan dan rutinitas sehari-hari.
Eustress mendorong anak-anak maju dan memberi mereka rasa kepuasan. Jadi tidak khawatir tentang eustress. Sedangkan distress perlu diperhatikan. Ini terjadi ketika seorang anak tidak mampu beradaptasi atau menjadi kewalahan dengan situasi kehidupan atau responsibilitas.
Distress biasanya memiliki implikasi negatif bagi anak-anak dan perlu ditangani lebih awal. Bahkan stres dapat mempengaruhi anak secara emosional, perilaku dan fisik.
Dikutip dari GalTime, beberapa ciri khas perilaku yang dapat mendeteksi anak stres:


1. Peningkatan agresi
2. Mengisolasi dari keluarga dan teman-teman
3. Sering menangis dalam jangka waktu panjang
4. Mendadak mengompol
5. Perubahan kebiasaan makan dan tidur
6. Sering tantrum
7. Gugup atau gelisah
8. Perut nyeri, sakit kepala atau keluhan fisik lainnya
9. Masalah di sekolah
10. Cemas
Ingatlah, semua anak mungkin mengalami beberapa perilaku tersebut pada titik yang berbeda, dalam perkembangan mereka. Biarkan anak-anak tahu bahwa stres itu dialami oleh semua orang dan bahwa perasaan cemas, marah dan kesepian adalah normal.
Jika perilaku ini masih tetap dan menyebabkan kecemasan yang signifikan, misalnya akibat masalah di sekolah, ada baiknya menghubungi pihak sekolah, psikolog anak atau seorang konselor profesional.
Beberapa petunjuk untuk meminimalkan anak stres dalam kehidupan mereka
1. Jangan meremehkan waktu tidur dan pemberian gizi. Jangan kurang dari 8 jam tidur setiap malam. Kurangi gula dan kafein.
2. Bicara, bicara, dan bicara. Atur waktu teratur mengobrol dengan anak soal teman-temannya, sekolah dan keluarga. Bahkan jika Anda tidak setuju dengan pikiran dan perasaan mereka, cukuplah menjadi pendengar. Inti utama dari obrolan adalah mengeluarkan perasaan anak yang mungkin tidak terungkapkan. Bila tidak, maka ini adalah sumber utama stres.
3. Perbolehkan anak melakukan aktivitas fisik. Masuk dalam sebuah tim olahraga atau bersepeda dan berjalan adalah suatu keharusan untuk keberhasilan pengelolaan stres.
4. Persiapkan anak untuk situasi stres. Misalnya, persiapkan anak untuk menanti hari masuk sekolah setelah liburan panjang dengan mengajak mereka membeli buku baru dll.
5. Jangan berlebihan dalam memberikan anak berbagai kegiatan. Anak-anak juga membutuhkan waktu untuk bersantai, menikmati waktu bermain. Ini dapat menghindari stres anak.
6. Ingat bahwa kita tidak bisa sepenuhnya melindungi anak dari stres. Membantu anak stres ketika mereka mengalami kesulitan adalah hadiah yang luar biasa untuk mengurangi beban mereka. .


Berbaik Sangka kepada Allah


Oleh Prof Dr Yunahar Ilyas

Ibu Aisyah sibuk mempersiapkan pesta pernikahan putri bungsunya. Rumah sederhana yang dibangun sedikit demi sedikit dari menyisihkan sebagian gajinya sebagai pegawai negeri sudah semakin semarak. Dinding rumah bagian dalam dan luar sudah dicat baru. Khusus kamar pengantin sudah direhab sedemikian rupa. Tempat tidur, lemari, dan sebuah meja hias sudah siap. Sepekan sebelum hari pernikahan, undangan sudah habis disebar. Untuk ipar besan dan karib kerabat dekat diundang langsung dengan mengirim utusan. Persiapan dapur pun sudah lengkap.

Calon mantunya seorang sarjana berusia 32 tahun. Dia tinggal dan bekerja di ibu kota. Kabarnya, keadaan ekonominya sudah cukup mapan untuk membangun rumah tangga. Sementara anak gadisnya berusia 24 tahun dan baru saja meraih sarjana keguruan dari perguruan tinggi di ibu kota provinsi tempat dia berdomisili. Mereka dijodohkan oleh kedua orang tua, bukan melalui pacaran.

Dua hari sebelum hari pernikahan, calon mantunya belum juga pulang dari Jakarta. Entah mengapa Ibu Aisyah khawatir. Kadang-kadang muncul pikiran buruk, bagaimana kalau sampai hari H calon mantunya tidak juga muncul. Cepat-cepat pikiran buruk itu dibuangnya. Setiap habis shalat fardu, Ibu Aisyah tidak lupa berdoa agar apa yang dikhawatirkan tidak terjadi.

Sore sehari sebelum hari H, calon mantunya belum juga pulang. Barangkali pesawatnya delay. Semalaman Ibu Aisyah tidak bisa tidur. Pagi-pagi sekali dia telepon rumah calon besannya, ternyata belum juga pulang. Waktu itu masih ada harapan, semoga calon mantunya pulang dengan pesawat paling pagi dari Jakarta. Namun, harapannya sia-sia, bahkan sampai malam pun calon mantunya belum muncul. Padahal, pernikahan seharusnya sudah dilaksanakan bakda Zhuhur.

Betapa malu, sedih, dan kecewanya Ibu Aisyah. Apalagi putrinya, sungguh ia sangat terpukul. Sebagai guru agama di sebuah sekolah dasar negeri, Ibu Aisyah mencoba menabahkan hatinya dan berbaik sangka kepada Allah SWT. "... Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS 2: 216).

Ibu Aisyah berusaha menenangkan putrinya, berharap ada hikmah di balik peristiwa tersebut. Beberapa hari kemudian, Ibu Aisyah tahu bahwa calon mantunya rupanya sudah berpacaran beberapa tahun dengan gadis pilihannya di Jakarta, tetapi ibunya tidak merestuinya. Tidak mau mengecewakan ibunya, dia menerima calon yang dicarikan ibunya. Tetapi, rupanya dia merasa bersalah dengan pacarnya. Semakin dekat dengan hari kepulangannya, dia semakin merasa bersalah dan akhirnya membatalkan pernikahannya di kampung.

Tak sampai sebulan, Ibu Aisyah dapat berita bahwa calon mantunya mati bunuh diri. Rupanya dia dikejar-kejar oleh rasa bersalah kepada ibu bapaknya, calon istri dan calon kedua mertuanya. Akhirnya, setan mengalahkannya.

Di satu sisi, Ibu Aisyah prihatin, tetapi di sisi lain diam-diam dia menyadari inilah rahasia mengapa Allah tidak merestui perjodohan putrinya dengan pemuda yang lemah iman dan singkat pikiran seperti itu. Inilah pelajaran dari kasus Ibu Aisyah. Berbaik sangkalah kepada Allah SWT.